RESENSINOVEL HAFALAN SHALAT DELISA KARYA TERE LIYE 1.DATA BUKU v JUDUL BUKU : HAFALAN SHALAT DALIA v PENULIS : TERE LIYE v JUMLAH HALAMAN : 266 v GAMBAR DAN WARNA : Warna cover didominasi oleh warna biru, dan warna putih. v PENERBIT : REPUBLIK v ALAMAT PENERBIT : JAKARTA SELATAN. 2.UNSUR INSTRINSIK v TOKOH : delisa, ummi salamah, fatimah, aisyah, zahra, abi usman, Ustad rahman, umam, tiur
ResensiNovel : Novel ini menceritakan Delisa seorang gadis berumur 6 tahun yang tinggal di Lhok-Nga Aceh bersama Ummi Salamah, kak Fatimah, kak Zahra dan kak Aisyah. Sedangkan Abi Usman jarang berada dirumah karena ada pekerjaan yang mengharuskan abi Usman pergi dari satu kota ke kota yang lainnya.
Sinopsisdan Resensi Novel Matahari Karya Tere Liye May 10th, 2019 - Sinopsis dan Resensi Novel Matahari - Sebelumnya saya telah menulis artikel tentang Sinopsis dan Resensi Novel Hujan Karya Tere Liye Kali ini saya akan Hafalan Shalat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah 7 Novel Terpopuler Tere Liye Kamu Suka yang Mana May 12th, 2019
cash. RESENSI NOVEL “HAFALAN SHOLAT DELISA” Identitas Buku o Judul Hafalan Shalat Delisa o Penulis Tere Liye o Sutradara Sony Gaoksak o Produser Chand Parwez Servia o Desain cover Eja-creative4 o Penerbit Republika Penerbit o Tempat terbit Jakarta o Tahun terbit 2008 o Halaman 266 halaman o Ukuran 20,5 x 13,5 cm o Harga Rp. Sinopsis Novel ini menceritakan seorang anak perempuan berumur enam tahun yang bernama Delisa. Delisa adalah seorang anak yang lugu, polos, dan suka bertanya. Ia anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarganya. Delisa tinngal bersama Umminya yang bernama Salamah dan kakak-kakaknya bernama Cut Fatimah, Cut Zahra, dan Cut Aisyah. Mereka berdomisi di Aceh, tepatnya di Lhok Nga. Ayahnya yang biasa dipanggil Abi bernama Usman, beliau bekerja di kapal tanker dan baru pulang setiap 3 bulan sekali. Delisa mendapatkan tugas dari Ibu Guru Nur, yakni tugas menghafal bacaan sholat yang akan disetorkan pada hari minggu tanggal 26 Desember 2004. Motivasi dari Ummi yang berjanji akan memberikan hadiah jika ia berhasil menghafalkan bacaan sholat membuat semangat Delisa untuk menghafal. Ummi telah menyiapkan hadiah kalung emas dua gram berliontin D untuk Delisa, sedangkan Abi akan membelikan sepeda untuk hafalan sholatnya jikalau lulus. Pagi itu hari minggu tanggal 24 Desember 2004, Delisa mempraktikkan hafalan sholatnya di depan kelas. Tiba-tiba Gempa bumi berkekuatan 8,9 SR yang disertai tsunami melanda bumi Aceh. Seketika keadaan berubah. Ketakutan dan kecemasan menerpa setiap jiwa saat itu. Namun, Delisa tetap melanjutkan hafalan sholatnya. Ketika hendak sujud yang pertama, air itu telah menghanyutkan semua yang ada, menghempaskan Delisa. Shalat Delisa belum sempurna. Delisa kehilangan Ummi dan kakak-kakaknya. Enam hari Delisa tergolek antara sadar dan tidak. Ketika tubuhnya ditemukan oleh prajurit Smith yang kemudian menjadi mu’alaf dan berganti nama menjadi prajurit Salam. Bahkan pancaran cahaya Delisa telah mampu memberikan hidayah pada Smith untuk bermu’alaf. Beberapa waktu lamanya Delisa tidak sadarkan diri, keadaannya tidak kunjung membaik juga tidak sebaliknya. Sampai ketika seorang ibu yang di rawat sebelahnya melakukan sholat tahajud, pada bacaan sholat dimana hari itu hafalan shalat Delisa terputus, kesadaran dan kesehatan Delisa terbangun. Kaki Delisa harus diamputasi. Delisa menerima tanpa mengeluh. Luka jahitan dan lebam disekujur tubuhnya tidak membuatnya berputus asa. Bahkan kondisi ini telah membawa ke pertemuan dengan Abinya. Pertemuan yang mengharukan. Abi tidak menyangka Delisa lebih kuat menerima semuanya. Menerima takdir yang telah digariskan oleh Allah. Beberapa bulan setelah kejadian tsunami yang melanda Lhok Nga, Delisa sudah bisa menerima keadaan itu. Ia memulai kembali kehidupan dari awal bersama abinya. Hidup di barak pengungsian yang didirikan sukarelawan lokal maupun asing. Hidup dengan orang-orang yang senasib, mereka korban tsunami yang kehilangan keluarga, sahabat, teman dan orang-orang terdekat. Beberapa bulan kemudian, Delisa mulai masuk sekolah kembali. Sekolah yang dibuka oleh tenaga sukarelawan. Delisa ingin menghafal bacaan sholatnya. Akan tetapi susah, tampak lebih rumit dari sebelumnya. Delisa benar-benar lupa, tidak bisa mengingatnya. Lupa juga akan kalung berliontin D untuk delisa, lupa akan sepeda yang di janjikan abi. Delisa hanya ingin menghafal bacaan sholatnya. Akhir dari novel ini, Delisa mendapatkan kembali hafalan sholatnya. Sebelumnya malam itu Delisa bermimpi bertemu dengan umminya, yang menunjukkan kalung itu dan permintaan untuk menyelesaikan tugas menghafal bacaan sholatnya. Kekuatan itu telah membawa Delisa pada kemudahan menghafalnya. Delisa telah mampu melakukan Shalat Asharnya dengan sempurna untuk pertama kalinya, tanpa ada yang terlupa dan terbalik. Hafalan sholat karena Allah, bukan karena sebatang coklat, sebuah kalung, ataupun sepeda. Selesai shalat Ashar, Delisa pergi mencuci tangan di tepian sungai, Delisa melihat ada pantulan cahaya matahari sore dari semak belukar, cahaya itu menarik perhatian Delisa untuk mendekat. Mendadak hati Delisa bergetar. Delisa berkata “bukankah itu seuntai kalung?” ternyata Delisa benar benda itu adalah kalung berinisial D untuk Delisa dalam genggaman tangan manusia yang sudah tinggal tulang. Tangan manusia yang sudah tinggal tulang itu tidak lain adalah milik Ummi Delisa. Delisa sangat terkejut. Unsur-Unsur Intrinsik ü Tema Novel Hafalan Shalat Delisa bertema Sosial dan Agama ketegaran seorang anak dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT. ü Penokohan Tokoh-tokoh dalam novel Hafalan Shalat Delisha yaitu Delisa Pantang menyerah, baik, penyayang, manja Badannya terus terseret . Ya Allah Delisa ditengah sadar dan tidaknya ingin sujud… Ya Allah Delisa ingin sujud dengan sempurna. Delisa sekarang hafal bacaannya… Delisa tidak lupa seperti tadi Subuh Hafalan Shalat Delisa, hal 71 Ummi Salamah Rendah hati, sabar, perhatian, bijaksana “Kamu kenapa sayang ?” “Kamu sakit ?” Hafalan Shalat Delisa, hal 27 Kak Fatimah Sabar, tegas “Delisa bangun sayang…… Shubuh!” Hafalan Shalat Delisa, hal 2 Kak Aisyah Keras kepala, egois, iri hati, usil,baik “Makanya kamu cepetan menghafal bacaannya…. Bikin repot saja! Hafalan Shalat Delisha, hal 8 Kak Zahra Pendiam, baik, sabar. “Iya! Tapi kamu nyarikannya bias sedikit lebih pelan ? Nggak mesti merusak lipatan pakaian yang lainkan ?” Hafalan Shalat Delisa, hal 49 Abi Usman Pengertian, baik, sabar, perhatian. “Bagaimana sayang, apakah Delisa sudah merasa baikan?” Hafalan Shalat Delisa, hal 226 Ustadz Rahman Pengertian, baik, sabar. “Biar gak kebolak-balik kamu hafalnya berkali-kali… Baca berkali-kali… Nanti nggak lagi! Nanti pasti terbiasa.” Hafalan Shalat Delisa, hal 38 Umam Jahil, usil, nakal, dan pemurung Tiur Baik dan pengertian. Pak Cik Acan Baik, suka menolong dan suka memberi. Shopie Baik dan penyayang serta pengertian. Smith Adam Baik, penyayang dan suka menolong. ü Latar Latar tempat Lhoknga Menggetarkan langit-langit Lhoknga yang masih gelap Hafalan Shalat Delisa, hal 1 Kamar Rawat Shopie melangkah keluar kamar, entah mengambil apa Hafalan Shalat Delisa, hal 132 Hutan Sersan Ahmed berlari menuju semak belukar tersebut Hafalan Shalat Delisa, hal 109 Tenda Darurat Delisa menatap tenda-tenda yang berjejer rapi tersebut Hafalan Shalat Delisa, hal 156 Latar waktu Pagi Hari Adzan Subuh dari meunasah terdengar syahdu Hafalan Shalat Delisa, hal 1 Siang Hari Saat siang menjelang, matahari terik memanggang tubuhnya Hafalan Shalat Delisa, hal 92 Sore Hari Matahari bergerak menghujam bumi begitu rendah Hafalan Shalat Delisa, hal 46 Dini Hari Malam ketiga ketika Delisa terbaring tak berdaya. Pukul Hafalan Shalat Delisa, hal 112 Latar suasana Ramai Pasar Lhoknga ramai sekali. Hari Ahad begini. Semua seperti sibuk berbelanja. Hafalan Shalat Delisa, hal 19 Senang “ Delisa boleh pilih kalungnya sendiri kan ? Seperti punya Kak Zahra, punya Kak Fatimah atau seperti punya Kak Aisyah !” Hafalan Shalat Delisa, hal 17 Sedih Sungguh semua hancur. Sungguh semuanya musnah. Ya Allah kami belum pernah melihat kehancuran seperti ini. Kota ini tak tersisa, kota ini luluh lantak hanya meninggalkan berbilang kubah mesjid, kota itu menjadi cokelat, kota ini tak berpenguni lagi. Kota ini! Kota itu! Hafalan Shalat Delisha, hal 81 ü Alur Maju – mundur – maju campuran Alur dari cerita ini yaitu maju, mundur, maju campuran karena pada novel ini digambarkan bahwa Delisa mengenang masa-masa saat sebelum keluarganya meninggal karena bencana Tsunami. “Ummi? Delisa tiba-tiba ingat Ummi. Ya Allah dimana Ummi. Kepala Delisa berputar mencari. Di mana pula Kak Fatimah? Kak Zahra? Kak Aisyah? Di mana mereka? “ Pelan kenangan itu kembali. Lambat Delisa mengingat kejadian enam hari lalu. Delisa sama sekali tidak pernah tahu, hamper seminggu ia sudah terjerambab di atas semak-belukar tersebut. Sekolah! Ia di sekolah pagi hari itu. Ia bukankah sedang menghadap Ibu Guru Nur menghafal bacaan shalat. Hafalan Shalat Delisa, hal 93 ü Sudut Pandang Orang ketiga serba tahu Hal ini dibuktikan oleh pengarang yang selalu menyebut nama tokoh-tokoh pemeran dalam dalam novel tersebut, dimana seakan-akan pengarang begitu mengerti perasaan yang dialami tokoh dalam cerita. ü Gaya Bahasa Gaya Hiperbola “Ya Allah.. Kalimat itu membuat hatinya meleleh seketika” Hafalan Shalat Delisa, hal 53 Gaya Personifikasi “Gelombang tsunami sudah menghantam bibir pantai” Hafalan Shalat Delisa, hal 70 Gaya Metafora “Pohon-pohon bertumbangan bagai kecambang tauge yang akarnya lemah menunjang” Hafalan Shalat Delisa, hal 70 ü Amanat Jangan pernah putus asa dan tetap semangatlah menjalani hidup ini. Sayangilah Keluargamu seperti mereka menyayangimu. Jika kamu menginginkan sesuatu, teruslah berusaha agar tercapai. Unsur-Unsur Ekstrinsik ü Nilai Moral Disini terdapat nilai-nilai moral yang sangat kental. Kita dapat menganalisi dari keadaan social dan kegiatan masyarakat di daerah tersebut, sangat sopan dan juga sangat mengutamakan nilai-nilai agama dan budaya islam. ü Agama Dalam novel ini nilai agama yang terkandung sangatlah kuat, karena semua anak-anak Ummi Salamah diwajibkan menghafal bacaan shalatnya dan diwajibkan untuk shalat sesuai waktunya. Semua anak Ummi Salamah belajar mengaji di TPA bersama Ustadz Rahman. ü Budaya Ketika semua anak Ummi Salamah lulus hafalan membaca shalatnya maka sebagai hadiahnya, Ummi membelikan sebuah kalung. Hafalan Shalat Delisa, hal 17 ü Nilai Sosial Terbukti bahwa nilai sosialnya sangat mendalam, sebagai contoh kebersamaan seorang ibu yang menyayangi ke 4 anaknya dengan sabar. Walau dalam keluarganya tersebut tidak hadirnya seorang ayah. Contoh lainnya “ CARI TERUS! KUMPULKAN MAYAT SEBANYAK MUNGKIN! PERIKSA SELURUH TEMPAT!” Hafalan Shalat Delisa, hal 101 Struktur Novel 1. Pendahuluan Peristiwa Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 menjadi inspirasi bagi Tere Liye untuk mengangkat kisah hidup seorang anak yang sabar dan tabah. Kisah anak tersebut membuat banyak orang tersentuh dan terinspirasi dari novel ini. 2. Evaluasi Cerita ini berawal dari seorang anak berusia 6 tahun bernama Delisa, yang hidup bersama Ummi Salamah dan ketiga kakak-kakaknya, yaitu, Cut Fatimah siswa kelas 1 Madrasah Aliyah, si kembar Cut Aisyah dan Cut Zahra yang duduk dikelas 1 Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Lhok Nga. Sementara Abinya, Usman bekerja di tanker perusahaan minyak Internasional, yang pulang setiap 3 bulan sekali untuk menemui keluarganya. Mereka tinggal bersama dikomplek perumahan sederhana dipinggir pesisir pantai Lhok Nga, Aceh. Keluarga Abi Usman memang bahagia, memiliki empat anak shaleh dengan karakter yang berbeda, dengan sifat Delisa yang manja dan baik hati, Aisyah yang irihati dan egois, Fatimah yang bijaksana, Zahra yang pendiam, menciptakan suasana keributan-keributan kecil pada keluarga itu. Kehidupan mereka berkecukupan. Bertetanggan yang baik dan bersahaja. Apa adanya. Suatu hari Ummi dan Delisa pergi ke pasar Lhok Nga untuk membeli kalung emas 2 gram ditoko Koh Acan sebagai hadiah ujian praktek hafalan shalat yang akan dilakukan Delisa untuk di setorkan kepada Bu Guru Nur. Abi juga akan memberikan hadiah berupa sepedah untuk Delisa, hal itu membuat Delisa semakin bersemangat menghafal lafadz bacaan shalatnya. Pagi, 26 Desember 2004 itu Delisa akan melaksanakan ujian praktek hafalan shalatnya. Dengan raut wajah tegang, memucat, Delisa mengangkat tangan kecilnya yang gemetar, namun mantap hatinya berkata Delisa akan khusyu’. Allaahu-akbar’ lantai laut retak seketika. Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Vas bunga pecah menggores lengan Delisa. Gelombang itu bergetar menyapu Banda Aceh. Namun sedetik berikutnya sejuta air membuncah keluar, desiran dahsyat ombak menggulung pesisir komplek Lhok Nga, anehnya Delisa tetap khusyu’ membaca lafadz shalatnya. Gelombang itu menghantam tubuh Delisa keras-keras, terpelanting jauh menghantam tembok. Entah kemana Delisa terbawa deru ombak. Selama 6 hari Delisa tak sadarkan diri, dia ditemukan dengan keadaan yang sangat menyedihkan, mirip seperti mayat. Kini Delisa dirawat dirumah sakit, tak lagi terbaring disemak-semak belukar, tak lagi meminum air hujan, tak lagi kepanasan terkena sinar mentari. Delisa dirawat dengan banyak selang ditubuhnya, kepalanya dipangkas dengan banyak luka jahitan, lebih dari dua puluh jahitan ditemukan disekujur tubuhnya, serta kaki yang telah membusuk terpaksa di amputansi, tangannya diberi gips, sungguh malang nasib gadis kecil itu, walau begitu ia tak pernah mengeluh. Berkat data-data yang diberikan suster Sophi Delisa dapat bertemu dengan Abinya. Ia menceritakan semua kondisinya tanpa ada raut wajah sedih, Abinya tidak menyangka Delisa lebih kuat menerima semuanya, menerima takdir yang telah di berikan oleh ALLAH. Delisa dan Abi memulai kembali kehidupan dari awal bersama, mulai menerima keadaan pahit yang telah diterima mereka, sejak saat itu Delisa mulai memahami kata ikhlas, ikhlas menghafal hafalan shalat hanya karena ALLAH SWT semata . Sore itu, Sabtu, 21 Mei 2005, Delisa sedang mencuci tangannya di sungai. Ia terperangah ketika melihat kilauan cahaya dari semak belukar. Kilauan itu berwarna kuning, seperti seutai kalung. Hati Delisa bergetar, bukan karena ia melihat kalung itu berinisial D’, tetapi hatinya bergetar ketika melihat sebuah kerangka manusia yang bersandarkan semak belukar menggenggam kalung emas itu. Itu Umminya, Ummi Salamah. 3. Interpretasi Novel ini menarik dan bacaannya mudah dipahami, dikemas dalam tulisan-tulisan sederhana namun sangat menyentuh. Mengandung nilai raligius dan nilai sosial yang kental. Dalam novel ini tercipta keharmonisan dalam keluarga, saling tolong menolong dan hidup bertetanggan yang baik. Kisah ini mengandung banyak kisah inspiratif, dari kisah seorang anak berumur 6 tahun yang berjuang untuk menghafal bacaan shalat untuk dapat dipraktekkan dengan sempurna. Dia juga telah banyak menerima segala ujian dari Allah, namun ia selalu ikhlas dan tegar menjalaninya, tanpa mengeluh. Kita dapat mengambil manfaat positif dengan meneladani nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya. Serta dalam novel ini terdapat kalimat-kalimat indah yang di tulis oleh penulis semakin membuat novel ini menarik. Meskipun masih ada kata-kata yang kurang dapat dimengerti oleh sebagian kalangan, seperti ayat-ayat suci Al-quran, bahasa daerah, dan lain-lain, akan tetapi tidak mengurangi peminat untuk membaca novel ini. Selain itu perlu diberinya daftar isi, kata pengantar dan sinopsis supaya lebih lengkap. Menurut saya buku ini sangat bagus dibaca untuk semua kalangan karena disajikan dengan bahasa yang komunikatif. Nilai keikhlasan dan kesabaran tinngi yang sangat mengharukan dengan latar belakang tsunami serta pesan yang tersirat dalam novel ini memberikan banyak inspirasi bagi para pembacanya. 4. Ringkasan Ketabahan dan ketegaran sesosok Delisa patut diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Cobaan sedikit apapun jangan membuat kita semakin turun. Justru kita berusaha bangkit untuk menjadi yang lebih baik. Novel karangan Tere Liye ini mampu memikat banyak peminat. Biografi Penulis Nama “Tere Liye” merupakan nama pena seorang penulis berbakat tanah air. Tere Liye sendiri di ambil dari bahasa India dan memiliki arti untukmu. Tere Liye lahir dan tumbuh dewasa di pedalaman Sumatera. Ia lahir pada tanggal 21 mei 1979. Ia berasal dari keluarga sederhana yang orang tuanya berprofesi sebagai petani biasa. Anak ke enam dari tujuh bersaudara. Tere Liye meyelesaikan masa pendidikan dasar sampai di SDN 2 dan SMPN 2 Kikim Timur, Sumatera Selatan. Kemudian melanjutkan ke SMUN 9 Bandar Lampung. Setelah selesai di Bandar Lampung, ia meneruskan ke Universitas Indonesia dengan mengambil Fakultas Ekonomi. Tere Liye menikah dengan Amelia dan di karunia seorang putra bernama Abdullah Pasai. Sampai saat ini ia telah menghasilkan 14 karya. Bahkan beberapa di antaranya telah di angkat ke layar lebar. Berdasarkan email yang di jadikan sarana komunikasi dengan para penggemarnya yaitu darwisdarwis Bisa di simpulkan sederhana bahwa namanya adalah Darwis. Berikut tulis karya Tere Liye Ø Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Gramedia Pustaka Umum,2010 Ø Pukat Penerbit Republika, 2010 Ø Burlian Penerbit Republika, 2009 Ø Hafalan Shalat Delisa Penerbit Republika, 2005 Ø Moga Bunda Disayang Alloh Penerbit Republika, 2005 Ø The Gogons Series James & Incridible Incodents Gramedia Pustaka Umum, 2006 Ø Bidadari – Bidadari Surga Penerbit Republika, 2008 Ø Sang Penandai Penerbit Serambi, 2007 Ø Rembulan Tenggelam di Wajahmu Grafindo 2006 & Republika 2009 Ø Mimpi-Mimpi Si Patah Hati Penerbit AddPrint, 2005 Ø Cintaku Antara Jakarta dan Kuala Lumpur Penerbit AddPrint, 2006 Ø Senja Bersama Rosie Penerbit Grafindo, 2008 Ø Eliana, Serial Anak-Anak Mamak Dari karya-karyanya Tere Liye ingin membagi pemahaman bahwa sebetulnya hidup ini tidaklah rumit seperti yang sering terpikir oleh kebanyakan orang. Hidup adalah anugerah yang Kuasa dan karena anugerah berarti harus di syukuri. Untuk novelnya bisa kalian download disini.
Oleh Imam Maulana, Editor M. Izzudin Judul Hafalan Shalat Delisa Pengarang Tereliye Penerbit Republika Tebal buku vi + 266 halaman Luas buku x cm Novel ini menggambarkan keluarga kecil yang bahagia. Di sebuah daerah dekat Banda Aceh bernama Lhok Nga, keluarga Abi Usman tinggal dan menjalani kehidupan sehari hari. Abi Usman mempunyai seorang istri cantik nan sholehah. Mereka dikaruniai empat bidadari. Cut Aisyah,yang jahil dan suka menggoda Delisa, Cut Zahra yang pendiam, Cut Fatimah yang gemar membaca buku, serta Delisa, anak kecil yang imut dan menggemaskan yang juga memiliki gaya berfikir yang berbeda dari anak- anak lain seusianya. Delisa memiliki tujuan yang kuat untuk bisa menghafalkan bacaan sholat. Ia mengiginkan shalat yang sempurna lengkap dengan bacaannya. Selama proses menghafal, Cut Aisyah ditugaskan ummi untuk mengeraskan bacaannya ketika sholat agar Delisa bisa mendengar dan mengikuti. Delisa menghafal dengan penuh semangat, apalagi ummi berjanji akan memberikan hadiah kalung jika Delisa bisa menyelesaikan hafalan bacaan shalatnya. Delisa makin semangat untuk mendapatkan kalung berliontin huruf D yang akan diberikan umminya. D untuk Delisa. Delisa semangat bukan main menghafalkan kalimat demi kalimat bacaan sholatnya dengan nyaris sempurna . Tibalah waktu ujian hafalan sholat yang diadakan oleh Ibu Guru Nur di sekolah. Pagi itu ummi mengantar Delisa ke sekolah. Ketika Delisa mendapat giliran, Shalatlah Ia dengan mantap diiringi dengan retaknya lantai laut Aceh. Saat gempa mengguncang Delisa tak bergeming . Ia mencoba berfikir satu seperti apa yang dikatakan oleh guru TPA nya, Ustadz Rahman, lewat sebuah kisah para sahabat Nabi yang melakukan sholat dengan khusu’. Semua berjalan begitu cepat. Delisa yang sedang menikmati keindahan sholatnya hanyut digulung air bah. Dalam kondisi setengah sadar ia masih melafalkan bacaan shalatnya hingga dunia menjadi gelap. Dalam waktu singkat Lhok Nga sudah porak poranda. Delisa tersangkut di semak-semak selama seminggu. Namun ia masih bisa bernafas sampai parajurit Amerika, Smith, menemukannya dengan luka robek dan lebam di sekujur tubuh. Delisa mendapatkan perawatan namun sayang kaki kanannya harus diamputasi karena sudah bernanah. Abi Usman yang sudah mendengar berita bencana ini pun tiba di Lhok Nga. Meratapi keluarganya yang sudah berada dipelukan Ilahi usai mendengar informasi dari koh Achan bahwa ketiga anaknya sudah dimakamkan. Hingga suatu waktu Abi Usman melihat selembar kertas bahwa anak bungsunya selamat. Akhirnya mereka berdua bertemu Delisa dan Abi Usman menjalani kehidupan yang baru. Namun, Delisa diganggu dengan bayangan hafalan sholatnya yang hilang entah kemana. Delisa terus berjuang. Petunjuk–petunjuk Allah disajikan dalam bebagai versi di cerita ini. Seperti di versi terakhir, ketika Delisa bermimpi bertemu umminya yang menyuruh Delisa menyelesaikan hafalannya. Saat itu Delisa sadar bahwa selama ini yang mempersulit dirinya adalah apa yang dia kerjakan belum sempurna karena Allah. Dan ketika tekadnya sudah untuk Allah semata, Allah pun memudahkanya menghafal bacaan sholat secara lengkap serta memberikan hadiah kalung berliontin D yang tergenggam di jemari mayat ibunya Tokoh selain yang disebutkan pada ulasan di atas antara lain; Shofie, Kak Ubai, Tiur, Teuku Umam , Sersan Ahmed, dokter Elisa, dokter Peter dan Ibu Ani. Semua tokoh sangat berperan mengisi keharmonisan cerita ini Keunggulan dari novel ini adalah penulis sangat mampu membawa pembaca masuk ke dalam cerita. Sehingga pembaca bisa merasakan haru, bahagia, sedih, dan semua perasaan yang ada di dalamnya. Penulis juga banyak membubuhkan catatan kaki berupa pengaduan kepada Ilahi tentang apa yang dialami oleh tokoh. Hal ini menambah bumbu cerita ini Kelemahan dalam buku ini tidak banyak. Pada sub bab ”Delisa Cinta Umi Karena Allah” terdapat kesalahan pengetikan. Tetapi secara keseluruhan buku ini sangat bagus. Buku ini sangat bisa dibaca oleh berbagai kalangan. Dalam cerita ini terdapat banyak nilai-nilai islami yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun buku ini sudah diadopsi menjadi film namun percayalah, membaca bukunya jauh lebih berkesan dan menyayat perasaan kita.
- Hafalan Shalat Delisa merupakan novel fiksi bertema religi karangan Tere Liye yang terbit pertama kali pada 2007. Novel ini berkisah tentang peristiwa Tsunami Aceh yang terjadi pada 2004. Penceritaannya berfokus pada sudut pandang anak berusia 6 tahun bernama yang berlatar di Nanggroe Aceh Darussalam tersebut menandai debut Tere Liye sebagai pengarang. Pada tahun yang sama, Tere Liye juga menerbitkan Novel keduanya berjudul Mimpi-mimpi Si Patah tsunami yang diangkat Tere Liye dinilai sangat tepat. Sebab, novel itu berkaitan dengan bencana yang baru saja terjadi setahun sebelumnya. Di tambah lagi, sudut pandang cerita itu berfokus pada ketakutan gadis cilik yang menyaksikan langsung peristiwa Tsunami novel pertama Tere Liye itu membuat Kharisma Starvision Plus tertarik untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Enam tahun setelahnya, tepatnya pada 2011, cerita dalam novel itu diangkat menjadi film. Nama Sony Gaokasak terpilih sebagai juga Sinopsis Novel Ayat-ayat Setan Karya Salman Rushdie Sinopsis Novel "Geez & Ann" Karya Rintik Sedu yang Difilmkan Sinopsis Novel Hafalan Shalat Delisa Hafalan Shalat Delisa berlatar tragedi Tsunami Aceh yang terjadi pada 2004. Dalam novel ini tersirat nilai keikhlasan yang dirajut oleh Tere Liye dengan cukup mulus melalui sudut pandang anak-anak. Kisah bermula dari sebuah keluarga di Lhoknga, Aceh, yang selalu mengamalkan ajaran Islam dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Umi Salamah dan Abi Usman, yang memiliki empat anak yakni Alisa Fatimah, si kembar Alisa Zahra & Alisa Aisyah, dan si bungsu keempat anak itu terpaksa hanya tinggal bersama ibunya, karena abinya bekerja sebagai mekanik kapak. Pekerjaan itu membuatnya hanya bisa pulang 3 bulan sekali, bahkan terkadang lebih begitu, ajaran Islam yang sudah mengakar di keluarga tersebut terus dipertahankan. Setiap subuh, umi selalu mengajak anak-anaknya salat berjamaah. Awalnya, Delisa sulit mengikuti kebiasaan itu. Namun, kakak-kakaknya mengajarinya dengan sabar. Setiap salat berjamaah, Aisyah melantangkan suara bacaannya agar Delisa bisa mengikuti. Suatu hari, Delisa mendapat tugas dari sekolahnya untuk menghafal bacaan salat. Si bungsu berusaha memenuhi tugas itu dengan baik. Apalagi, umi menjanjikannya hadiah berupa kalung emas jika Delisa berhasil menghafal bacaan ujian tiba, tepat pada 26 Desember 2004. Namun, terjadi peristiwa memilukan saat tiba pada giliran ketika Delisa sampai pada bacaan takbiratulihram, bangunan sekolah tiba-tiba bergetar hebat. Genting-genting berjatuhan, papan tulis yang menempel di dinding terlepas, berdebam menghajar lantai. Tak lama setelahnya air laut naik ke daratan. Gelombang air menerpa dinding luar sekolah. Akan tetapi, Delisa tak memedulikan hal itu. Ia tetap khusuk melafalkan bacaan salat yang sudah lama ia tubuh Delisa terpelanting, lalu terseret ombak. Namun, untungnya ia selamat. Tubuhnya tersangkut di semak belukar. Seorang prajurit marinir Amerika Serikat, Smith, berhasil menemukan Delisa tetapi dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Tubuhnya penuh luka, lengan kanannya dan kakinya patah. Delisa pun dibawa ke Kapal Induk John F. dioperasi, kaki kanannya diamputasi. Siku tangan kanannya di-gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Muka lebamnya dibalsem tebal-tebal. Lebih dari seratus baret di sekujur itu, tiga kakak perempuan Delisa, Aisyah, Fatimah, dan Zahra, tak terselamatkan. Mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Hanya Umi Salamah yang belum pandangan Smith, apa yang terjadi pada Delisa adalah sebuah keajaiban. Gadis kecil itu bisa selamat padahal peluangnya begitu kecil. Karena peristiwa itu, Smith memutuskan menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi minggu setelah dirawat di Kapal Induk, Delisa diizinkan pulang. Delisa dipertemukan dengan sang ayah, yang tidak tahu menahu tentang peristiwa itu karena sedang berlayar ke tempat nun jauh. Abi pun membawa Delisa pulang ke Lhok Nga, tepatnya di tenda pengungsian. - Sosial Budaya Kontributor Olivia RianjaniPenulis Olivia RianjaniEditor Muhammad Fadli Nasrudin Alkof
resensi novel hafalan shalat delisa